Konsep Manusia dan Peroblematika dalam Al qur'an
1. Konsep Manusia dalam Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an, manusia (al-insān) dipandang sebagai makhluk istimewa yang memiliki potensi ganda — bisa menjadi makhluk mulia atau sebaliknya tergelincir ke derajat rendah.
Beberapa konsep utama:
a. Manusia sebagai Makhluk Spiritual dan Fisik
Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah (jasmani) dan ruh (rohani).
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya.” (QS. As-Sajdah: 9)
Artinya manusia memiliki dua dimensi, yaitu kebutuhan jasmani (makan, tidur, bekerja) dan kebutuhan rohani (iman, cinta, makna hidup).
b. Manusia sebagai Khalifah di Bumi
Allah menjadikan manusia sebagai pemimpin dan pengelola kehidupan di dunia.
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Ini menunjukkan tanggung jawab moral dan sosial: manusia harus menjaga keadilan, kedamaian, dan keseimbangan lingkungan.
c. Manusia sebagai Makhluk Berpotensi
Manusia dibekali akal, hati, dan kehendak bebas (ikhtiar).
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan).” (QS. Al-Balad: 10)
Potensi ini dapat dikembangkan melalui pendidikan, bimbingan, dan latihan spiritual.
2. Problematika Manusia dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an juga menggambarkan berbagai masalah atau kelemahan manusia, yang menjadi sumber krisis pribadi dan sosial.
a. Lemah Iman dan Lupa Diri
Banyak ayat menggambarkan manusia mudah lupa kepada Allah saat senang dan hanya ingat ketika susah.
“Apabila Kami beri nikmat, dia berpaling; tapi bila ditimpa kesusahan, dia berdoa panjang.” (QS. Fussilat: 51)
b. Cenderung Tergesa dan Tidak Sabar
“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiya: 37)
→ Ini sering menyebabkan stres, emosi, dan keputusan tanpa pertimbangan matang.
c. Cinta Dunia dan Lupa Akhirat
“Kamu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan akhirat.” (QS. Al-A’la: 16–17)
→ Dalam bimbingan, ini bisa tampak sebagai perilaku materialistik atau kehilangan arah hidup.
d. Hawa Nafsu dan Kesombongan
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Nafsu yang tak terkendali menimbulkan konflik, penyimpangan moral, dan penderitaan batin.
3. Relevansi bagi Bimbingan dan Konseling Islam
Dalam konteks BK Islami, pemahaman ini membantu konselor:
1. Melihat manusia secara utuh (fisik, psikis, sosial, dan spiritual).
2. Membimbing individu untuk mengenali potensi dirinya sebagai khalifah.
3. Membantu menyelesaikan problematika hidup (stres, kehilangan arah, kecanduan, dll.) dengan pendekatan Qur’ani seperti sabar, syukur, dan tawakal.
4. Mengembalikan klien kepada fitrah — yaitu kesucian hati dan keseimbangan jiwa.
Comments
Post a Comment